Pages Menu
logo keuskupan
Jl. Bengawan No 3 Surabaya. Catholic Center I Telp : 031 5678419 ext. 17 I Email : Komkep_Surabaya@yahoo.com
Persekutuan Murid-Murid Kristus Yang Dewasa Dalam Iman, Guyub, Penuh Pelayanan dan Misioner
Categories Menu

Posted by on Feb 13, 2014 in Bidang, Diskusi Jumatan | 2 comments

Secondhand Smoker – Sebuah Diskusi

kop 1

Mabes Komkep akan dipindahkan ke Wisma Pastoran HKY, semua mulai dibongkar dan di-pack.

Saya termasuk salah seorang yang membongkar file-file lama di facebook saya (karena hdd external saya yang 500GB error) dan berusaha mencari file-file lama yang bisa saya kais. Ini salah satu hasil saya mengais & membongkar kenangan lama, diskusi Jumatan Bengawan, Agustus 2014.  Saya attach juga komen-komen yang masuk sebagai tanggapan atas hasil diskusi tersebut.

Semoga bermanfaat :)

 

Conversation started August 24, 2009

8/24, 12:26am

 

HOtTEst Rules!

Diskusi Jumatan 21 August 2009

Tema : Secondhand Smoker

Pemateri : Nikolas Dwi Susanto

 

Sebagai pembuka, diputarkan iklan tentang bahaya bagi secondhand smoker dan hasil riset di India mengenai hal ini. Peserta diskusi dibagi menjadi kelompok pro dan kontra pada rokok.

Beberapa statement yang dilontarkan oleh kelompok pro rokok: Merokok adalah hak setiap orang untuk menyalurkan kesenangan/hasratnya Merokok membuat aliran darah ke otak lebih cepat, bisa berpikir lebih cepat Merokok merupakan sarana socialiasi yang bagus, dalam pergaulan maupun pekerjaan. Merokok merupakan bagian dari budaya zaman dulu, bangsa Aztec, Maya, Inca menggunakannya untuk mengusir roh-roh jahat Penghasil polusi bukan hanya asap rokok tapi juga asap kendaraan bermotor, asap industri, dan lain-lain. Pabrik rokok merupakan tempat yang memberi banyak lapangan kerja, termasuk penghasilan bagi para petani tembakau. Pengalaman menjadi perokok pasif merugikan, jadi lebih baik jadi perokok aktif.

Sedangkan balasan statement dari kelompok kontra adalah: Pemuasan hak bagi perokok sangat merugikan bagi secondhand smokers yang tidak ikut menikmati enaknya merokok tapi ikut terkena dampaknya, terutama kesehatan. Fakta: 20% wanita di USA terkena kanker paru padahal mereka bukan perokok, hanya perokok pasif. Merokok mengambil hak O2 bagi secondhand smokers Alasan bahwa asap rokok bukan satu-satunya penghasil polusi yang mengambil jatah O2 = alasan para koruptor saat melakukan korupsi (tanpa saya korupsi pun, Negara ini sudah penuh dengan korupsi) Merokok berawal dari pencarian jati diri, atau supaya diterima lingkungan perokok. Merokok mungkin budaya bangsa Maya, Inca, Aztek, tapi bukan budaya bangsa kita. Kita bukan mereka. Budaya bangsa kita adalah ‘nginang’. Merokok di tengah orang bkan perokok berarti menganggap orang-orang lain bukan manusia tetapi benda yang tak perlu diperdulikan. Merokok hanya penyaluran dari kebutuhan oral masa kanak-kanak yang tak terpenuhi. Kalau pabrik rokok ditutup, petani-petani tembakau masih dapat menanam tanaman yang lain. Penutupan secara bertahap.

Hal yang sangat menarik, terutama bagi para peserta dari kelompok pro adalah ketika Niko memaparkan fakta mengenai rokok dan mengenai cara berhenti dari ketergantungan pada rokok: Sebatang rokok mengandung zat-zat yang tercantum pada bungkus seperti tar dan nicotine, masih ditambah 4000 jenis zat-zat berbahaya lain yang terletak di dekat filter rokok. 75% asap rokok justru dihirup oleh perokok pasif, jadi lebih berbahaya. Dampak negative rokok, baik bagi perokok pasif maupun aktif, adalah penyakit, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pemasukan Negara dari cukai rokok hanya 1/3 dari biaya yang harus dikeluarkan per tahun untuk pengobatan kanker paru & tuberculosis yang diakibatkan oleh rokok (belum dihitung pengeluaran karena dampak rokok pada penyakit selain 2 penyakit tersebut). Jika ketergantungan pada nikotin dari rokok –> permen nicotine harga per 10 biji Rp. 150.000,00 –> daripada subsidi untuk rokok mending subsidi dialihkan untuk obat rokok sehingga perokok mampu membeli obat ini daripada membeli rokok. 3 alasan terbesar orang berhenti menjadi perokok aktif: factor social, factor ekonomi, dan factor kesehatan. Alasan yang prosentasenya terbesar adalah factor social, jika dipersempit karena relasi dengan pacar (relasi dengan keluarga dan teman prosentasnya lebih kecil).

Pada intinya, kelompok pro rokok mengakui kalau merokok itu merugikan, terutama bagi perokok pasif, maka diskusi akhirnya berusaha mencari solusi untuk mengurangi kerugian yang dialami secondhand smokers. Beberapa solusi dan masalahnya, yang sempat terlontar: Teguran kepada perokok secara langsung saat secondhand smokers merasa keberatan –> susahnya kalau perokok yang ditegur justru “njarag” dengan semakin memperburuk kelakuannya. Kesadaran dari perokok itu sendiri Memperlakukan perokok sebagai orang dewasa –> dipasang tulisan “Terima kasih Anda tidak merokok”. Lokalisasi bagi para perokok –> menghilangkan itu tidak mungkin (seperti lokalisasi pemuasan seksual, karena tidak mungkin dihlangkan 100%) Peraturan yang jelas, terbuka, dan tidak bisa ditawar-tawar lagi dari pemerintah –> disertai pengawasan yang serius. Di Indonesia masih sulit sekali karena pemerintah & aparat yang mebuat & menegakkan peraturan sendiri masih punya banyak “kepentingan”. Mengangkat “relasi” sebagai payung –> menunda merokok saat bersama secondhand smokers demi relasi antar “manusia” terjaga baik.

Dalam hubungan dengan point terakhir dari solusi ini, muncullah peraturan baru yang akan diterapkan di lingkungan Komkep sejak note ini disebarkan: Saat rapat terutama di ruang tertutup atau ber-AC –> perokok pasif dapat MENEGUR LANGSUNG siapapun yang merokok supaya mematikan rokoknya Saat pertemuan di ruang terbuka –> perokok pasif berhak meminta kawasan bebas rokok yang terpisah dari kawasan merokok atau MENUNJUKKAN SIKAP “saya terganggu” terhadap asap rokok Demi terjalinnya “relasi” yang tetap baik, mohon semua pihak menyadari & melaksanakan kedua peraturan yang disetujui bersama ini dengan kesadaran sebagai manusia dewasa Bukan soal siapa yang menang atau kalah, tapi lebih pada soal RELASI -.~

Damai Tuhan besertamu, teman-teman +

komen 1 komen 2 komen 3 komen 4 komen 5

Kalau kurang jelas, ini versi copy isi teksnya:

 

  • August 24, 2009

8/24, 6:13pm

Citra Eka

di bulan suci Ramadhan ini, marilah kita mengampuni perokok aktif, seperti ada tertulis: “ampunilah perokok aktif 70×7 kali”…

  • August 24, 2009

8/24, 11:56pm

Tyo Aja Dech

Saya sebagai juru bicara tim pembela hak perokok masih merencanakan untuk mengajukan banding atas hasil jumatan Bengawan tanggal 21 Agustus 2009 kemarin, tapi untuk menghargai hasil diskusi saya sepakat untuk mentaati semua kesepakatan yang dihasilkan dalam diskusi tersebut.

  • August 25, 2009

8/25, 7:56am

Peter Megantara

banding opo? yo wis lah dituruti-ae lha wong sing ngumpul tetep akeh sing ngrokok, jd peraturannya gak masalah. Kalo gak kuat ngempet, yo dinego di tempat lokasi kejadian.

  • August 25, 2009

8/25, 4:11pm

Tyo Aja Dech

bukannya menolak peraturan, malahan aku tetp mentaat’i. Namun scr legalitas aturan/keputusan kan bisa diajukan banding.

8/25, 4:12pm

Nikolas Dwi Susanto

Banding ke Rm. Cuncun yg punya hak veto, hahahahaha

8/25, 4:31pm

Tyo Aja Dech

wah pake hak veto segala jd jumatannya harus memenuhi quorum donk agar aturannya sah…

8/25, 5:23pm

Ari Susanto

Aq netral. walopun aq perokok, tapi tetep menghargai yg lain..

  • August 26, 2009

8/26, 2:40am

Tri Kuncoro Yekti

hahaha. Siip. Ini pilihan cerdas. Aku sepakat. Bila terpaksa pun, aku mau taat. Hohoho

8/26, 3:23am

Tyo Aja Dech

Ketua Komkep sudah setuju nich… sekarang tinggal masuk HORDA aja hasil diskusinya biar tambah maknyus kesepakatannya.

  • August 26, 2009

8/26, 11:42am

Andre Yuris

what ever lah..yang penting bagus buat kesehatan

  • August 26, 2009

8/26, 5:13pm

Silvana Ratri Widharwanti

@ mo cun: lah…kokk ada ‘kalo terpaksa’ nya, mo??? @ mas tio: banding apa mnh iki?? bnr kt om peter iku…terimalah..

8/26, 6:05pm

Tyo Aja Dech

Karena sdh jd kesepakatan saya pasti menerima. “Life is waiting and anything is always maybe”.

  • August 27, 2009

8/27, 5:07am

Tri Kuncoro Yekti

@silvana : kata orang, alah bisa karna biasa. dan bagaimana bisa orang akan terbiasa? karna dipaksa juga. begitulah. hehehe. hukum alam pun tak jarang memaksa, bukan? di situlah, di tengah-tengah hukum alam, kebebasan manusiawi menemukan keindahan wujudnya. berselancar atau menyelam pada gelombang realitas (yg kadang-kadang memang sungguh memaksa), untuk memancarkan keagungan hakikat manusia. wuiizzz..

8/27, 7:43am

Stanislaus Patrick

walah..aku gag tau ne hasil jumatan kok merembet kmna2 y…sudahlah terimalah hasilx pren…hahaha!!!

8/27, 8:29am

Tri Kuncoro Yekti

memang begitulah semsetinya diskusi jumatan. hasilnya mesti dirembetkan ke mana-mana.

 

2 Comments

  1. ada beberapa file dokumentasi di aku. Mau?

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>