Pages Menu
logo keuskupan
Jl. Bengawan No 3 Surabaya. Catholic Center I Telp : 031 5678419 ext. 17 I Email : Komkep_Surabaya@yahoo.com
Persekutuan Murid-Murid Kristus Yang Dewasa Dalam Iman, Guyub, Penuh Pelayanan dan Misioner
Categories Menu

Posted by on Oct 20, 2015 in Diskusi Jumatan | 0 comments

Selma – Notulen Diskusi Jumatan

Notulen diskusi jumatan

selma

Hari, tanggal       : Jumat, 18 September 2015

Tempat                 : Ruang Pendidikan, Gedung Catholic Center Jl, Bengawan no. 3 Surabaya

Waktu                   : 20.42 – 22.00

Tema                     : Pluralisme

Media                   : Film Selma

Pemateri             : Pak Budi Setyawan (Dosen Antropologi Universitas Airlangga)

Moderator         : Ivone Loreta

Notulis               : silvana ratri

 

Apa yang bisa ditangkap dari film:

  1. Perlawanan tidak hanya melalui unjuk rasa tetapi juga perlu didukung dengan lobby.
  2. Demokrasi tetap tidak bisa dilakukan, membedakan rasial. Intinya semua orang mempunyai hak yang sama.

Pak Budi:

Pluralism sudah ada sejak lama. Perbedaan tidak bisa dihindarkan, baik di Negara yang sudah baik hukumnya maupun belum. Perbedaan itu dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Pluralism itu realitas, jadi apa yang sebenarnya mau dicari dari tema ini?

Persoalannnya muncul ketika solidaritas, tenggang rasa tidak berkembang, padahal hal-hal tersebut yang bisa menjembatani perbedaan, kemajemukan. Perlu dibuat pipa-pipa penghubung.

Di Indonesia menjadi strategies untuk dikaji berkaitan dengan pluralism agama. Solidaritas bisa dicapai dengan aturan-aturan tertentu. Yang cukup rumit adalah adanya pengelompokan soal agama. Agama mengandung klaim kebenaran. Dan ironisnya, tafsir akan sabda Tuhan itu ditafsirkan dengan begitu lugunya olah manusia. Misal, “Engkau tidak akan sampai kepadaKu jika tidak melalui Aku”. Tafsir-tafsir tersebut seharusnya hidup. Bisa jadi juga, tafsir sudah benar, tetapi saking bebalnya umat manusia, tafsir dibuat semakin ketat. Tapi yang benar, tafsir arus hidup, luwes, sesuai dengan jamannya, bukan tekstual, sehingga menjadi anti-pluralisme. Biasanya orang muda yang lebih open mind sedangkan orang tua sudah punya pattern sendiri yang menutup pluralism.

Pluralism bisa disentuh dengan kesamaan yaitu manusia, sehingga bisa menjadi cair. Aksinya dengan kerja perbuatan, misal: donor darah, bakti social.

Tapi, ada garis keras yang menganggap bahwa pluralism hanya senjata, cara kapitalisme untuk melancarkan jalannya dalam membesarkan bisnisnya.

Kegiatan kita yang hanya ke dalam, meskipun tidak salah, sebenarnya juga anti pluralism, misal: retret, perayaan pesta nama, rekoleksi, yang sebenarnya hanya senang-senang di dalam, onani, asyik dengan kelompok sendiri. Garam mengasinkan garam maka jadinya racun.

Bagaimana seandainya omk membangun hubungan cinta dengan yang non-katolik? Menurut Pak Budi, ajaran Yesus itu yang terpenting bukan agama tetapi cinta; besar cintanya dan cerdas caranya. Seandainya larut karena besar cintanya juga tidak salah, asal tetap menjadi orang baik, karena sebenarnya cinta dan kebaikan itulah yang merupakan sabda Kristus yang sesungguhnya.

Dalam pergaulan dengan kelompok yang berbeda, misalnya kelompok putih padahal kita hitam, maka kita sebaiknya tidak menunjukkan hitam kita tetapi lebi menunjukkan putih kita. Harus cair, untuk cair harus ada unsur lain. Setelah itu, tumbuhlah solidaritas, timbullah koeksistensi sehingga menjadi pluralism.

Video Berita Satu tentang Kerusuhan Tolikara:

Pak Budi:

  1. Agama itu rentan
  2. Kemajemukan memiliki potensi konflik tetapi kalau kita kelola mempunyai kekuatan besar.
  3. Informasi yang tidak fair. Kita harus cari fakta yang sebenarnya dulu, jangan terburu-buru mengambil tindakan. Jangan-jangan masalah sebenarnya bukan agama tetapi masalah lain.
  4. Klaim kebenaran kapan harus dicairkan? Tidak boleh kental terus. Kapan kita mencairkan klaim kebenaran itu tergantung pada kedewasaan iman kita. Butuh habitus yang membuat kita tidak merasa senang berada di zone nyaman. Jangan sampai agama hanya menjadi habit saja.

Pertanyaan:

Kalau memang Indonesia seharusnya menghargai pluralism mengapa kok nikah beda agama di Indoenesia, kecuali di Katolik, tidak diijinkan?

Jawaban:

-          UU produk politik, UU perkawinan tahun 1974.

-          Ada evaluasi dari pihak agama tertentu yang melihat bahwa hasil dari perkawinan beda agama kebanyakan yang dari pihak mereka  yang ikut agama yang berbeda, sehingga dianggap merugikan mereka. Maka dibuatlah larangan untuk menikah beda agama; dan kebanyakan anggota MK berisi dari kaum itu.

Pertanyaan:

Ada teman Katolik yang mau menikah beda agama tidak diijinkan tetapi saat sudah menikah di gereja lain dan bercerai, lalu ingin kembali ke gereja Katolik kok ditolak.

Jawaban:

-          Saat dia memutuskan untuk pndah ke gereja lain itu merupakan salah satu strategi untuk mencapai tujuannya. Jadi sebenarnya dia orang yang setengah-setengah, kurang kuat dalam memegang pendirian. Ya kalau sekarang dia mau kembali bisa diterima dengan potong wedhus, sudah ada di Injil.

-          Harus ditanya lagi dengan detail dan diperjelas di Tribunal.

Pertanyaan:

Kalau kita yang menghadapi kasus Tolikara, apakah kita akan menempuh jalan seperti Marthin Luther King, Jr?

Jawaban:

-          Pilih jalan perdamaian, meskipun menyakitkan.

-          Orang Papua sendiri temperamental maka kita juga belum tau kasus yang sebenarnya.

Pertanyaan:

Orang Katolik terlalu nyaman dengan identitasnya sebagai Katolik sehingga tidak ada keinginan untuk keluar dari gerejanya sendiri.

-          Ya memang tidak boleh nyaman, harus bongkar semua tembok pemisah yang kita bangun terhadap tetangga. Atau paling tidak buat jendela. Jalannya bisa dengan kerja bakti, kegiatan social lain.

-          Ada gerakan bagus dari Paus Fransikus, yaitu Sukacita Injili: gereja jangan hanya di dalam saja tetapi harus berani berkotor-kotor.

-          Kalau tidak bisa ikut dalam organisasi, bisa masuk orang per orang, secara personal. Misal aktif di RT – RW, di kampong. Biasanya orang Katolik ditunjuk sebagai bendahara di kampong, ini kan suatu pandangan yang baik, kita sudah berhasil menjadi garam.

Pertanyaan:

Menjadi cair itu susah. Kadang bingung menghadapi umat muslim yang radikal, disalami tidak mau.

-          Ya yang penting sudah diupayakan. Ketika pihak lain tidak seperti kita ya jangan sakit hati. Proses cair itu perlu usaha dari kedua belah pihak. Atau bisa disapa dari hal yang lain, tidak harus dalam bentuk salam/jabat tangan fisik. Senyum juga bisa jadi jembatan. Ini hanya masalah teknis saja, tanpa harus jadi air benar.

Mas Yudhit:

-          Bicara pluralism teringat Gusdur. Kita masing-masing mengklaim kebenaran. Gus Dur pakai hukum, misalnya mengesahkan Konghucu, Barongsai ada.

-          Orang lain melihat gereja dari kita, kita ini Alkitab hidup, kalau kata Pak Budi “sabda yang hidup”.

-          Kalau alat yang bisa menciptakan pluralism itu profil kita, maka, jangankan penghayatan padahal pengetahuan iman saja lemah,

-          Kalau sekeliling kita tidak bisa menjadi baik ya kita harus bisa menjadi orang baik.

-          Semakin banyak orang mengenal ilmu dan imannya, semakin dia merasa membutuhkan orang lain supaya bisa menjadi harmoni. Orang beragama di Indonesia rata-rata baru baca Alkitab 2 halaman pertama itu yang berisik, merasa hebat sendiri; ketika sudah dalam pengenalannya pasti lebih merasa membutuhkan yang lain untuk harmoni. Hubungan dengan pihak lain harus berangkat dari titik yang sama, sementara kebanyakan pluralism di Indonesia masih berangkat dari titik yang berbeda; mereka menilai Tuhan kita 3 sementara kita menilai nabi mereka tidak bisa digambarkan. Hubungan dalam pluralism antar agama membutuhkan kita yang berpikir dalam level sufi.

 

Narasi:

Membicarakan pluralism dengan seorang yang sudah katam dalam hal pluralism sepertinya hanya akan menjadi sesuatu yang sangat mudah. Seperti itulah kesan yang kami tangkap dari diskusi malam itu di Ruang Pendidikan Catholic Center, bersama Drs. Budi Susetya, seorang dosen kawakan ilmu antropologi dari Universitas Airlangga.

Banyak masalah yang terjadi di dunia luar kita tentang pluralisme, seperti Pembakaran di Tolikara, ijin pendirian Gereja yang susah di Jawa Barat, bahkan di luar Indonesia juga masih ada kasus pluralism seperti yang ditayangkan pada film pengantar diskusi, Selma, dan kejadian yang baru-baru ini di Timur Tengah tentang pengungsi Suriah yang ditolak oleh lima Negara Timur Tengah sendiri yang notabene ekonomi mapan.

Jawaban dari Pak Budi sederhana saja, dan membuat kami bingung harus bertanya apa lagi karena toh semua bisa diselesaikan dengan jawaban tersebut; toleransi, tenggang rasa. Seperti obat mujarab, dua kata ini bisa manjur untuk jawaban semua masalah pluralism. Masalahnya sekarang, sampai di mana obat mujarab itu bisa merasuki otak dan hati manusia.

Dialog tingkat teology jelas tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang baru saja membaca 1-2 halaman kitab sucinya masing-masing, dan ini yang kemudian menjadikan agama itu hal rentan dalam pluralism. Padahal, untuk tingkat sufi, seperti Gusdur atau Paus Fransiskus –dengan gebrakan Evangelii Gaudium (Sukacita Injil)-, diperlukan penghayatan mendalam akan kitab-kitab itu sendiri (ilmu) dan imannya. Setelah itu, orang akan merasa membutuhkan orang lain untuk memenuhi kehidupan supaya tercipta harmoni, seperti permainan music yang tidak bias hanya dimainkan oleh satu jenis alat music saja. Hubungan dengan pihak lain seharusnya dimulai dari titik yang sama, sementara kebanyakan dari kita masih berangkat dari titik kita masing-masing.

Pertanyaan mendasar yang kemudian seharusnya lebih menggelitik kita adalah, sudah seberapa jauh kita membuka pipa-pipa, menurut istilah Pak Budi, atau jendela-jendela, kalau dirasa membuka pintu seperti yang disarankan oleh Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium masih terlalu berat, relasi dengan kemajemukan / pluralism di sekitar kita? Bagaimana manusia bisa membuka jendelanya? Dari mana kepekaan toleransi ini harus dimulai?

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>